Skip to main content

Udang Bakar Warung Raos - Bara IPB Dramaga

 Udang adalah salah satu kuliner laut yang paling digemari di seluruh dunia. Udang segar yang dimasak dengan cara benar akan menghasilkan masakan yang sangat menggoda. Saya juga sangat menyukai masakan dari udang, salah satu masakan udang yang pernah saya nikmati dan sangat berkesan adalah udang bakar di warung Raos Babakan Raya, Dramaga samping kampus IPB.

Satu porsi Udang Bakar Raos menggunakan empat ekor udang berukuran relatif besar, yang ditusuk seperti sate. Bumbu bakarnya sangat gurih, seperti musik yang membuat lidah menari-nari di dalam rongga mulut. Udang Bakar Raos ini ditemani oleh lalapan mentimun, kol, dan daun kemangi. Dan tentu saja, sambal merah pedas khas kuliner sunda.

Udang Bakar IPB Dramaga
Udang Bakar Warung Raos - Bara IPB Dramaga

Udang bakar di warung Raos ini sepertinya dipilih dari udang yang baru berganti kulit, sehingga kita tidak perlu repot membuang kulitnya untuk menikmatinya. Bumbu gurihnya yang wangi juga bisa meresap dengan baik, berpadu dengan rasa manis dari daging udangnya.

Untuk menikmati satu porsi udang bakar Raos, kita harus mengeluarkan Rp. 18.000,-. Belum termasuk nasinya seharga Rp. 3000,- perporsi.

Comments

Popular posts from this blog

Tips Submit Artikel di Vivalog agar di Approve

Sudah bebeberapa artikel saya submit di vivalog , sudah beberapa kali malah, tapi tidak satu pun yang masuk dan di publish di sana. Rasanya agak frustasi juga (yang ringan saja), karena agak bertanya-tanya apa yang salah dari artikel saya. Saya pun mencari-cari apa yang salah dengan artikel yang saya submit di beberapa blog melalui google. Akhirnya karena tidak juga menemukan jawaban yang memuaskan saya melepas i-frame dari vivalog karena merasa ada ketidakadilan. Sementara saya memasang frame di blog saya, vivalog tidak menerima satupun artikel yang saya submit. Kemarin, saya mencoba kembali submit artikel di vivalog , Alhamdulillah, saya sangat bersyukur ternyata kali kemarin artikel saya bisa di approve dan di publish di vivalog. Bahkan langsung menjadi salah satu artikel populer, dan seperti penjelasan di banyak blog lainnya, visitor saya langsung meroket hingga sepuluh kali lipat. Rasanya jadi terbayar sekali saya membuat atau menyadur artikel di blog saya . Saya kemu...

Pantaskah Aku disebut Sebagai Seorang Blogger?

Beberapa hari yang lalu saya menemukan satu bacaan yang menarik di Kompasiana, tentang dunia perbloggeran yang agak menggelitik dan bikin gelisah (geli-geli bas... ah sudahlah). Pernyataannya adalah sebagai berikut: Begitu mudah kita menempelkan suatu profesi hanya karena melakukan satu dua pekerjaan saja. Menyebut diri blogger hanya karena punya blog (padahal tidak update juga), bla bla bla.... Pernyataan diatas bisa dilihat dalam kolom Dari Redaksi yang ditulis oleh Pemred Femina. Bagaimana menurut rekan-rekan? Adakah perasaan tergelitik... atau tersinggung? Tapi tunggu dulu, pernyataan sang Pemred tersebut masih ada kelanjutannya, berikut potongan lainnya... “Mungkin ini urusan pribadi, namun di ranah profesional hal ini sulit dibenarkan. Penghargaan terhadap mereka yang betul-betul berprofesi itu menjadi terabaikan. Apalagi ketika mereka kalah ‘pamor’ dengan para wannabe ini yang populer di ranah maya”. Gimana? Ada yang tersenggol? Pernyataan di atas saya ketahui dari blog K...

Long House of Dipanimpan Bolong Nanga Nyabau, Heart of Borneo

The Nanga Nyabau Village Nanga Nyabau is one of the villages in Kapuas Hulu Regency, precisely in Embaloh Hulu district. It does’nt take a long time to visit this village from Putussibau*. Nanga Nyabau can be achieved in about 1 hour road trip. I have been to this village several times, but not with special intentions for traveling or backpacking. My arrival to this village was only to take my co-workers in the village of Nanga Lauk. Why go to Nanga Nyabau village? Its because the most plausible path to the village of Nanga Lauk is the river route starting from Nanga Nyabau downstream of the Palin River. After several visits, I learned that Nanga Nyabau Village has a betang house (long house) that has been designated as a cultural heritage object. While waiting for the boat pickup from Nanga Lauk, we visited the betang house in Nanga Lauk village on the advice of Rio. From where the car was parked, me, the nicke, elin, and aloy, walked across the suspension bridge that are very com...