Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2016

Ngetrack ke Riam Pelabuh Kuduk, Nanga Sangan, Kapuas Hulu

Ada banyak olahraga di dunia ini yang menurut saya keren, namun biasanya olahraga tersebut butuh biaya yang agak besar. Dua olahraga yang menurut saya sangat menarik adalah diving dan mountainbike, namun rasanya saat ini kantong belum mampu untuk mendukung kedua olahraga tersebut. Setelah cukup lama mondar-mandir surfing di internet, pilihan saya kembali ke olahraga yang sedari kecil menjadi olahraga favorit saya, lari alias jogging. Baca juga: Tracking dan Berinteraksi dengan Alam Bebas Jogging, Walking dan Hunting di Kampus Biodiversitas Jogging 31+ di Bumi Uncak Kapuas Seorang dosen saya pernah bertanya kepada saya tentang olah raga apa yang sering saya lakukan. Sederhana saja jawaban saya, Jogging. Dan beliau berkomentar, itulah olahraga yang paling murah, tapi tetap menyehatkan. Namun murah tidak berarti gratis, karena tetap ada yang harus dibeli, yaitu sepatu. Untuk mendukung olah raga lari itu saya membeli satu sepatu running. Tentang sepatu lari ini akan saya ceritaka

Latihan Grasstrack Sirkuit Lokajaya Boyan Tanjung

Para Pembalap siap beraksi Sekitar pukul 14.30 kami berangkat dari Nanga Sangan menuju Mujan (pusat kecamatan Boyan Tanjung) menggunakan Hillux pak Sekdes. Tentu saja perjalanan ini jauh lebih santai, karena saya duduk diatas jok yang sangat empuk, batu-batu dijalan tidak terlalu terasa. Setelah mengantar belian pak Camat, pak Sekdes mengambil trail miliknya yang dititipkan di sebuah bengkel. Selanjutnya kami meluncur ke sirkuit yang letaknya ke arah barat dari simpang boyan. Lokasi sirkuit grasstrack boyan Tanjung bernama Sirkuti Lokajaya, berada sekitar 300 meter dari jalan raya. Untuk menuju sirkuit tersebut kita akan melalui jalan perkerasan tanah merah melewati perkebunan karet masyarakat. Saat kami tiba di jalan masuk sirkuit, puluhan motor berjejer di tepi jalan dan menjadikan jalan masuk tersebut sempit. Mobil pak Sekdes yang saya tumpangi kesulitan untuk masuk, sehingga kami harus meminggirkan motor-motor tersebut untuk bisa lewat. Sampai di tepi lapangan sirkuit, sud

Solo Riding ke Nanga Sangan

\ Bermotor sendirian menempuh jarak yang lumayan jauh memang sudah biasa saya jalani, tapi untuk jalan yang baru pertama kali saya tempuh sendiri tetap mengundang sensasi sendiri. Tapi sensasi tersebut cenderung ke rasa khawatir dan was-was. Seperti perjalanan saya hari kamis lalu menuju desa Nanga Sangan, Kecamatan Boyan Tanjung. Berhubung teman sekantor sedang mengunjungi daerah lain dan teman yang satunya lagi sudah pulang ke Pontianak, jadilah saya jalan sendirian. Pukul 14.00 saya berangkat dari kantor di Kota Putussibau. Setelah membeli bensin, saya langsung melaju menuju tempat tujuan melalu jalan raya Lintas Selatan Kapuas Hulu. Jalan raya Lintas Selatan Kapuas Hulu cukup mulus, hanya beberapa jembatan yang sedang diperbaiki sehingga motor harus dikurangi kecepatannya. Selain dari itu adalah sedikit bagian jalan yang turun dan menjadi gerutuk. Secara keseluruhan, perkiraan saya, jalan yang kurang mulus tidak lebih dari dua persen. Itupun hanya kurang mulus, bukan berbatu-

Antara Manusia, Momen dan Kamera

Saat ini hampir semua orang memiliki handphone, dan hampir semua handphone saat ini dilengkapi dengan kamera. Kesimpulannya, hampir semua orang memiliki kamera. Tidak sedikit juga orang yang memiliki kamera yang memang khusus kamera, baik poket maupun DSLR. Tujuan semua kamera adalah untuk mendokumentasikan momen yang terjadi disekitar kita, agar momen itu dapat direkam dan bisa kita lihat sewaktu-waktu di masa depan. Namun, saat ini saya melihat sebuah keanehan dalam hubungan antara manusia, kamera dan kejadian atau momen yang dialaminya. Saya melihat keanehan tersebut terjadi pada diri saya sendiri pada saat malam takbiran tahun lalu. Malam itu saya bersama istri dan beberapa teman menyusuri tepian sungai kapuas untuk menikmati atraksi meriam karbit yang memang rutin dilaksanakan setiap malam takbiran. Malam itu, mungkin puluhan meriam dinyalakan, sepanjang malam hingga menjelang subuh langit kota pontianak bergetar karena bunyinya. Cerita lebih lengkap tentang meriam ini bisa di b

Tepian Sungai Boyan dengan Warna-warni Bebatuan

Pemandangan Menjelang Dusun Kuala Baru, Desa Nanga Sangan Nanga Sangan, sebuah desa yang terletak di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, tepatnya di Kecamatan Boyan Tanjung. Nama desa ini baru saya dengar beberapa bulan yang lalu. Minggu kemarin saya kembali mengunjunginya, kali pertama saya berkunjung adalah pada bulan desember tahun lalu. Sebagian dari ceritanya ada di sini . Wilayah desa Nanga Sangan dibelah oleh sungai Boyan Tanjung dengan lebar sekitar 20 meter. Pada waktu hujan tidak terlalu deras, air sungai Boyan tersebut sebenarnya jernih tetapi saat kegiatan masyarakat menjadi intens di sungai, airnya akan menjadi keruh. Beberapa menit setelah kegiatan itu berhenti, air akan kembali menjadi jernih. Di sungai ini sebenarnya saya ingin mencari batu dan tanaman air, tapi menurut masyarakat, airnya sedang tinggi, jadi akan sulit untuk mencari tanaman airnya yang terendam dan tidak nampak. Batu juga sepertinya sudah tidak nampak lagi yang menarik, sepertinya sudah jauh hari ora